Ahok Ingin Sidangnya Live Seperti Jessica Wongso

Ahok Ingin Sidangnya Live Seperti Jessica Wongso

Ahok Ingin Sidangnya Live Seperti Jessica Wongso dibantu share melalui artikel poker online indonesia , judi poker website pokerace77. Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) ingin persidangannya kelak digelar terbuka bagai sidang Jessica Kumala Wongso. Dengan begitu, kata Ahok masyarakat bisa menyaksikan rentetan kebenaran kasus penistaan agama yang melilitnya itu terungkap di meja hijau.

Ahok resmi ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan penistaan agama sejak 15 November 2016. Nama Jessica sempat disebut-sebut saat pengumuman hasil gelar perkara kasus Ahok. Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan sidang Ahok akan digelar terbuka demi transparansi.

Cagub petahana DKI Jakarta pun menyambut baik. Dia berulang kali telah menyampaikan keinginannya untuk disidang terbuka, bila perlu disiarkan live di televisi. “Nanti di persidangan akan terbuka semua. Sidang kopi sianida saja ramai ditonton,” kata Ahok yang memutuskan tidak mengajukan praperadilan atas statusnya sebagai tersangka ini.

Ahok Ingin Sidangnya Live Seperti Jessica Wongso
Ahok Ingin Sidangnya Live Seperti Jessica Wongso

Bareskrim Polri menargetkan pemberkasan penyidikan Ahok rampung dalam tempo 3 bulan. Sejumlah saksi telah dimintai keterangan. Bahkan, cagub DKI Jakarta nomor urut dua itu dijadwalkan akan diperiksa perdana sebagai tersangka pada Selasa 22 November mendatang.

Ahok ingin persidangannya digelar secara terbuka bagai sidang Jessica Kumala Wongso yang telah divonis 20 tahun itu.

“Kalau dimasukkan ke persidangan, semua nonton melihat masuk akal apa enggak. Ini menarik,” kata Ahok kepada wartawan di rumah Lembang, Jakarta Pusat, Rabu (16/11/2016).

“Ada proses pengadilan yang terbuka seperti sidangnya Jessica. Sidang Jessica ini bisa ditonton semua,” tambah Ahok.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian sebelumnya mengatakan hal yang sama. Dia mengatakan kasus Ahok dinaikkan menjadi penyelidikan supaya transparan.

“Kita sudah dengar hasilnya, meski tidak bulat tapi nanti kita bisa lihat ke persidangan. Seperti itu sidang Jessica (kasus pembunuhan Wayan Mirna Salihin),” ujar Tito di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta, Rabu (14/11/2016).

Tito mengatakan, setelah kasus ini ada di persidangan, majelis hakim yang akan menilai ada tidaknya pidana dalam kasus itu.

Ahok berharap masyarakat bisa melihat apa fakta yang sebenarnya. Ahok meyakini soal menistakan agama atau tidak nanti akan terbongkar di pengadilan yang sidangnya berlangsung terbuka dan bisa disaksikan seluruh rakyat Indonesia. Dengan sidang terbuka tersebut, kata Ahok, bakal ada pihak yang malu karena menuduh dia telah menistakan agama.

“Nanti di persidangan akan terbuka semua. Sidang kopi sianida saja ramai ditonton,” kata Ahok di depan simpatisan di posko pemenangan Ahok di Rumah Lembang, Jl Lembang, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (18/11/2016).

Ahok menjelaskan status tersangka yang ia sandang tak otomatis menggugurkan pencalonannya sebagai calon gubernur DKI Jakarta. Oleh sebab itu, Ahok berharap semua pendukungnya siap membantu memenangkan dia pemilu pada Februari 2017 nanti.

“Status tersangka saya tidak menghilangkan status hak konstitusi saya. Makanya itu tanggal 15 Februari kita harus memenangkan ini. Masih ada proses waktu,” tutur Ahok.

Ahok disangka melanggar Pasal 156 a KUHPidana juncto Pasal 28 ayat 2 UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Ahok akan dipanggil Bareskrim Mabes Polri Selasa 22 November 2016 pekan depan. Dia akan diperiksa sebagai tersangka kasus dugaan penistaan agama terkait pidatonya di Kepulauan Seribu pada akhir September lalu.

Ini disampaikan Kapolri Jenderal Tito Karnavian pada konferensi pers usai bertemu dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Gedung MUI Jalan Proklamasi No. 51 Menteng Jakarta Pusat, Jumat (18/11/2016).

“Rencana (Ahok) akan dipanggil secara resmi hari Selasa minggu depan sebagai tersangka,” kata Kapolri Jenderal Tito Karnavian pada konferensi pers usai bertemu dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Gedung MUI Jalan Proklamasi No. 51 Menteng Jakarta Pusat, Jumat (18/11/2016).

Setelah pemanggilan tersebut, Ahok akan diinterview ulang oleh pihak penyidik guna melengkapi berkas perkara. Kelengkapan tersebut akan segera dipenuhi untuk selanjutnya dilimpahkan ke Kejaksaan.

“Setelah itu semua berkas-berkas, saya ulangi, interview-interview lanjutan nanti akan diulang kembali menjadi berita acara projustia, yaitu demi hukum. Termasuk langkah-langkah penyidikan resmi ke pengadilan dan pemberitahuan ke kejaksaan. Ini akan segera kita lakukan dan tuntaskan,” tegasnya.

Tim penyidik Bareskrim Polri sudah memeriksa 10 orang saksi terkait kasus dugaan penistaan agama dengan tersangka Ahok. Pemeriksaan dipercepat agar berkas perkara segera rampung untuk dilimpahkan ke penuntutan.

“Pemeriksaan (terkait) berkas perkara dugaan penistaan agama dalam proses pengumpulan keterangan saksi di dalam penyidikan. Sudah 10 saksi yang diperiksa dalam penyidikan ini,” kata Karo Penmas Mabes Polri, Kombes (Pol) Rikwanto di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (18/11/2016).

Ahok ditetapkan tersangka atas dugaan penistaan agama karena menyebut surat Al Maidah ayat 51 saat bertemu warga di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, pada 27 September 2016. Dalam penyelidikan polisi sudah memeriksa 29 orang saksi dan 39 orang ahli, termasuk Ahok yang 2 kali diperiksa.

Mabes Polri menargetkan penyidikan kasus dugaan penistaan agama Ahok rampung dalam waktu 3 pekan. Polisi akan mempercepat pemberkasan pemeriksaan para saksi termasuk Ahok yang berstatus tersangka.

“Mudah-mudahan bisa secepatnya, targetnya paling lama 3 minggu. Pemberkasannya saja, termasuk pemeriksaan Ahok sendiri itu kan harus dijadwalkan lagi,” kata Kadiv Humas Polri Irjen (Pol) Boy Rafli Amar kepada wartawan di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta Selatan, Kamis (17/11/2016).

Boy menjelaskan, penyidik tindak pidana umum Bareskrim Polri tengah melengapi berkas perkara Ahok yang jadi tersangka penistaan agama. Berkas perkara tersebut di antaranya berita acara pemeriksaan (BAP) para ahli.

Sekretaris tim pemenangan Ahok-Djarot, Ace Hasan Syadzily menyebut ada dua alasan tim Ahok tak mengajukan praperadilan.

Pertama, tim Ahok melihat bahwa Kepolisian RI dalam melakukan penyelidikan hingga gelar perkara pada Selasa kemarin telah bersikap profesional dan objektif. “Saya kira tidak perlu lagi digugat karena sudah sesuai dengan mekanisme,” kata Ace saat konferensi pers di Posko Ahok-Djarot di jalan Borobudur, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (16/11/2016).

Alasan berikutnya adalah, tim Ahok-Djarot ingin langsung masuk ke pokok perkara yang dituduhkan yakni dugaan menistakan agama. Menurut Ace, melalui sidang di pengadilan yang terbuka dan transparan, masyarakat akan bisa melihat langsung peristiwa yang sebenarnya terjadi saat Ahok pidato di Kepulauan Seribu pada akhir September lalu.

“Tentu kami ingin masuk ke pokok perkara, (pengadilan) yang transparan akan bisa dilihat bagaimana proses yang terjadi sebagaimana yang dituduhkan yakni dugaan penistaan,” kata Ace.

Pengacara Ahok, Sirra Prayuna mengatakan keputusan untuk tidak mengajukan praperadilan juga diambil agar tidak ada polemik yang terjadi secara terus menerus. Sirra sudah berkomunikasi dengan Ahok. Dia menjelaskan bahwa Cagub petahana itu dengan tegas akan menjalani proses hukum sesuai aturan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *