Dwi Estiningsih, Penyebar Isu Kebencian Kafir Pada Pahlawan NON-Muslim

Dwi Estiningsih, Penyebar Isu Kebencian Kafir Pada Pahlawan NON-Muslim

Dwi Estiningsih, Penyebar Isu Kebencian Kafir Pada Pahlawan NON-Muslim . Sehari setelah saya mengunggah foto Ahok dipeluk kakak angkatnya Nana Riwayati, tanpa ba bi bu, bak kilat menyambar, seketika menyebar postingan berstempel dan cap PKI kepada saya. Status Zulkifli Wahyu membuat dua postingan tentang saya. Postingan ala Orba ini mencap stempel lawan politiknya dengan stempel PKI. Tujuannya membunuh karakter lawannya.

Dwi Estiningsih, Penyebar Isu Kebencian Kafir Pada Pahlawan NON-Muslim
Dwi Estiningsih, Penyebar Isu Kebencian Kafir Pada Pahlawan NON-Muslim

Postingan Zulkifli tersebut sudah disebar oleh ribuan orang. Menjadi viral. Saya membaca komentar-komentar di postingan tersebut. Komentar didana bahwa darah saya halal. Ada seruan bunuh menghiasi komentar dari pengikut dan teman temannya. Belum lagi caci maki dan sumpah serapah mendominasi dari ribuan komentar yang muncul.

Saya tertawa geli melihat postingan itu. Sudah kebal juga dapat julukan dari kelompok paduan suara penyebar kebencian seperti Zul. Banyak teman teman menyarankan agar saya melaporkan ke polisi, biar gak sembarangan. Biar ada shock therapy.

Hujatan, stigma, stempel, caci maki dan sumpah serapah yang menonjok itu, saya anggap tonjokan angin lalu. Mau dibilang PKI, PKO, PKF, antek liberal, antek asing aseng atau antek iblis sekalipun tidaklah saya bawa ke hati. Saya tertawa geli. Lucu aja, kok ada anak bangsa akal sehat dan hatinya bukan seperti umumnya bangsa Indonesia. Cuekin saja, tidak saya jadikan masalah pribadi. Terserah elo aja.

Namun, darah saya mendidih ketika seorang Dwi Estiningsih dengan cengengesan tanpa malu menulis melalui twitter tentang pahlawan kafir. Cuitannya tentang warga negara minoritas Indonesia mayoritasnya adalah pengkhianat bangsa.

Dwi Estiningsih, Penyebar Isu Kebencian Kafir Pada Pahlawan NON-Muslim
Dwi Estiningsih, Penyebar Isu Kebencian Kafir Pada Pahlawan NON-Muslim

Saya kehabisan kata dan kehilangan keseimbangan ketika membaca cuitan perempuan kader PKS yang sudah begitu berkarat hitam dalam menyebarkan kebencian dan pecah belah. Menyebarkan pesan ekspresi permusuhan kepada anak bangsa yang berbeda iman dan suku dengannya. Bukankah Tuhan yang menjadikan kita umat manusia ciptaannya berbeda dan beragam?

Ribuan teman teman memberi dukungan atas sikap saya yang akan melaporkan Dwi Estiningsih. Seorang anak bangsa asal Bali NILUH DJELANTIK ikut mendukung dengan merepost postingan saya terkait pemberitahuan pelaporan Dwi ke Polda Metro hari ini.

Sudah lama sebenarnya saya dan teman teman sepergerakan dan sepemikiran mengamati adanya pola gerakan dan misi dari kelompok tertentu menyebarkan faham adu domba. Menyebarkan pikiran pembelahan dengan merasuki pikiran publik dengan berita berita hoax, ujaran kebencian, permusuhan dan kepalsuan.

Bagi kami pola gerakan mereka ini bukanlah pola individual, namun pola yang berpola dengan sistematis, terstruktur, terencana dan massiv. Penyebarannya bukan berasal dari anak kampung di pelosok desa yang iseng. Melainkan dari orang terpelajar, berideologi, orang yang sama, kelompok yang sama, berfaham yang sama dan konsisten terus menerus tiada henti dalam memprovokasi, membelah dan mengadu domba.

Dwi Estiningsih, Penyebar Isu Kebencian Kafir Pada Pahlawan NON-Muslim
Dwi Estiningsih, Penyebar Isu Kebencian Kafir Pada Pahlawan NON-Muslim

Joseph Goebbels Menteri Propaganda Hitler dikenal sebagai bapak propaganda modern. Doktrin Goebbels paling sohor adalah: “Kebohongan yang dikampanyekan secara terus-menerus dan sistematis akan berubah menjadi (seolah-olah) kenyataan!” Sedangkan kebohongan sempurna, kata Goebbels, adalah kebenaran yang dipelintir sedikit saja.

Teknik jitu hasil kepiawaiannya diberi nama Argentum ad nausem atau lebih dikenal sebagai teknik Big Lie (kebohongan besar). Prinsip dari tekniknya itu adalah menyebarluaskan berita bohong melalui media massa sebanyak mungkin dan sesering mungkin hingga kemudian kebohongan tersebut dianggap sebagai suatu kebenaran. Sederhana namun mematikan.

Dwi Estiningsih dan sekomplotannya ingin menanamkan kebohongan di benak rakyat Indonesia bahwa warga negara minoritas Indonesia mayoritasnya adalah pengkhianat. Dwi yang bergelar Master Psikologi ini begitu faham teori big lie Goebbles.

Dwi Estiningsih, Penyebar Isu Kebencian Kafir Pada Pahlawan NON-Muslim
Dwi Estiningsih, Penyebar Isu Kebencian Kafir Pada Pahlawan NON-Muslim

Ia mempraktikkan teori big lie Goebbels ini terus menerus, mengulang ulang pesan pesan kebencian dan kebohongan itu kepada publik. Ada 22 ribu followernya yang saban jam menerima kebohongan demi kebohongan yang telah menjadi kebenaran bagi mereka.

Enough is enough. Cukup sudah. Saya muak dengan caramu memporak porandakan nilai nilai luhur para leluhur bangsa yang telah bersusah payah mendirikan republik ini. Saya muak dengan kekejian pikiranmu yang berupaya merusak sendi sendi persatuan bangsa dengan nilai kebebasan demokrasi yang diperjuangakan seluruh anak bangsa.

Jika kau bermimpi bahwa teori Goebbels dengan terus menerus menebar kebohongan dan kebencian akan menjadi kebenaran, ketahuilah darah leluhur semua pejuang bangsa yang ikut mendirikan republik ini masih kental darahnya. Masih merah warnanya. Cukup sudah Bu Dwi.

Salam Perjuangan
Birgaldo Sinaga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *