Membuang Gaya Hidup Hedonisme Demi Kepuasan Hidup

Membuang Gaya Hidup Hedonisme Demi Kepuasan Hidup

Membuang Gaya Hidup Hedonisme Demi Kepuasan Hidup website Poker Indonesia artikel Judi Poker Online Indonesia . Joshua Fields Millburn menganggap periode 2009 jadi masa yang paling penting bagi hidupnya. Millburn yang kala itu berusia di bawah 30 tahun telah memiliki segalanya secara materi. Rumah dengan tiga kamar tidur, punya bisnis dengan 150 toko telekomunikasi di selatan-tengah Ohio, Amerika Serikat (AS).

Sampai akhirnya perubahan itu datang. Pada Oktober 2009, ibunya meninggal dunia dan sang istri juga tega meninggalkannya. Kedua momen itu mengubah caranya berpikir mengenai apa arti sebuah hidup.

“Saya memiliki semua yang pernah saya inginkan,” kata Millburn seperti dikutip dari Time. “Namun butuh waktu untuk mendapatkan semua yang saya “pernah” inginkan dan¬†menyadari bahwa saya sesungguhnya tidak bahagia.”

Ia kemudian bertemu dengan Colin Wright, orang yang berkeliling dunia dengan hanya 51 barang. Ia juga kemudian berkenalan dengan orang-orang yang serupa dengan Wright, yang bergaya hidup minimalis. Millburn pun kemudian memutuskan untuk mencobanya.

Millburn memulainya dengan menyingkirkan barang-barang, seperti televisi dan pemutar DVD-nya hingga karya seni miliknya. Ia pun memutuskan untuk pindah ke rumah yang lebih kecil.

Pertemuannya dengan Joshua Becker yang mulai menjalani hidup minimalis sejak 2008 jadi pelajaran berharga. Becker menyadari telah menghabiskan waktu lebih banyak untuk membersihkan garasinya daripada bermain dengan anaknya.

“Semua yang saya dimiliki tidak membuat saya bahagia, dan lebih buruk, itu mengganggu saya dari hal pokok yang telah membawa saya pada kebahagiaan,” katanya.

Gaya hidup minimalis ini tak hanya berkembang di Amerika Serikat. Di Jepang pun demikian. National Geographic pada Juni 2015 melaporkan bahwa penganut gaya hidup minimalis di Negeri Sakura ini juga mulai bertambah.

Gaya hidup minimalis memang telah mulai dilirik oleh sebagian masyarakat dunia, dan generasi milenial salah satu penyokong besar dari gaya hidup ini. Ini seiring dengan semakin bergesernya tren gaya hidup konsumerisme di berbagai belahan dunia.

Bila generasi milenial ditanya mengenai hal apa yang paling membuat mereka bahagia, maka jawabannya bisa jadi bukanlah harta benda, melainkan pengalaman. Berbagai macam studi telah membuktikannya. Salah satunya adalah survei yang dilakukan oleh online marketplace untuk penjualan tiket Eventbrite Inc. dan perusahaan riset pasar Harris Poll.

Dalam sebuah survei yang mereka lakukan, disebutkan bahwa 78 persen dari generasi milenial memilih mengalokasikan pengeluaran mereka untuk hal-hal yang bisa memperkaya pengalaman mereka daripada barang-barang material.

Sebanyak 82 persen dari mereka mengatakan bahwa mereka pergi mengunjungi acara-acara pertunjukan langsung seperti konser dan festival musik dalam setahun terakhir. Sementara itu, 72 persen mengatakan mereka merencanakan untuk menambah pengeluaran untuk menghadiri acara-acara serupa.

Sebuah studi yang dilakukan oleh The Intelligence Group menguatkan hal itu. Dalam pelacakan yang dilakukan di dalam studi itu terhadap kebiasaan berbelanja dari 1.300 orang berumur 18 hingga 34 tahun, ditemukan bahwa lebih dari sepertiga milenial dalam studi itu melakukan pembelian hanya terhadap barang-barang yang menurut mereka “diperlukan.”

Membuang Gaya Hidup Hedonisme Demi Kepuasan Hidup

Andrew Oswald, seorang profesor ekonomi dari University of Warwick di Coventry, Inggris, mengatakan konsumen muda saat ini merasa apa yang mereka miliki sudah cukup. Generasi milenial memerlukan sebuah jalan alternatif untuk mencapai kepuasan, jelasnya, mengacu pada penelitian oleh Thomas Gilovich, seorang profesor psikologi di Cornell University, seperti dikutip dari Bloomberg.

“Saat ini, orang – orang kurang akan pengalaman, namun memiliki benda bersifat materiil,” tegas Oswald, yang memiliki penelitian yang berfokus pada apa yang disebutnya ekonomi kebahagiaan.

Namun, tidak semua generasi milenial seberuntung Millburn yang punya segalanya. Banyak pula yang secara finansial belum terlalu mapan, apalagi ditambah masih buruknya perekonomian dunia.

Sebagai catatan, perkiraan pertumbuhan ekonomi global 2016 oleh Bank Dunia turun menjadi 2,4 persen dari sebelumnya 2,9 persen. Di sisi lain, menurut survei Nielsen pada 2015 yang berjudul “Global Generation Lifestyles,” hanya 34 persen generasi milenial di seluruh dunia yang mengatakan mereka telah menabung cukup uang setiap bulannya.

Situasi inilah yang kemudian mendorong mereka untuk semakin pilih-pilih dalam melakukan pengeluaran, sebuah hal yang mungkin menjadi faktor penguat mengapa gaya hidup minimalis semakin diminati.

“Mereka menyaksikan orang tua mereka bekerja, bekerja, bekerja, membeli rumah besar, dan kemudian kehilangan pensiun mereka dan melihatnya direnggut dari mereka,” kata Jamie Gutfreund, Chief Strategy Officer dari The Intelligence Group.

“Mereka melihat model itu dan berpikir, ‘Aku ingin melakukan hal ini dengan cara yang berbeda.'”

Di Indonesia tidak jauh berbeda, tanda-tanda adopsi gaya hidup minimalis juga mulai terlihat. Terdapat sejumlah orang yang mempromosikan gaya hidup ini dalam blog-blog mereka, seperti laman milik Suzana Widiastuti yang bernama Balepoint.com, slogan “Simply Minimalist karena cukup adalah tidak berlebihan.” sebuah pesan yang begitu kuat. Juga ada Nur Muhamad Dwi Putranto yang punya Diptra.com, terlihat jelas gaya minimalisnya dari tampilan blognya.

Barangkali bagi mereka menjadi minimalis adalah menyadari hal-hal yang esensial dalam hidup.

Apakah Anda termasuk yang ambil bagian dari gaya hidup ini?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *